Minggu, 12 Juni 2011

Hubungan guru_siswa di kelas

Mengajar adalah berkomunikasi antara guru dengan siswa. Bentuk komunikasi guru-siswa sebagai berikut.
a. Guru otoriter
Seorang guru otoriter menganggap dirinya sebagai arsitek budaya. Ia beranggapan bahwa ia telah diberi wewenang oleh masyarakat untuk membentuk kepribadian siswa sesuai dengan aturan-aturan yang secara khusus diserahkan masyarakat kepadanya. Pengajaran di bawah kendali guru yang dikenal dengan “teacher centered” atau “method of authority”. Para siswa adalah pendengar pasif informasi yang disampaikan guru di kelas. Bentuk hubungan seperti ini tidak memberi ruang untuk berdiskusi secara bebas atau mengemukakan pendapat secar bebas bagi siswa.
White dan Lippitt mengungkapkan beberapa sifat dari kelompok yang diajar oleh guru otoriter sebagai berikut:
1. Siswa mengembangkan sikap apatis dan tidak mandiri
2. Tidak memiliki kemampuan untuk berinisiatif dan bertindak secara kelompok
3. Tidak berminat mengerjakan pekerjaannya tanpa kehadiran guru, pimpinan.
4. Melakukan kejahatan dan agresi terhadap anggota kelompok.
b. Guru demokratis
Guru demokratis akan memimpin siswanya untuk mengkaji masalah-masalah yang bermanfaat sesuai dengan minatnya. Oleh sebab itu hal yang mendasari hubungan kerjasama guru siswa adalah prinsip saling memberi dan menerima serta saling mengahargai pemikiran masing-masing. Beberapa ciri yang ditampilkan oleh kelas yang demokratis diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Persahabatan dan suasana percaya diri
2. Saling menghargai dan bekerjasama
3. Hasil-guna yang tinggi dan kebiasaan bekerja sendiri/mandiri
4. Berinisiatif dalam bekerja secara efektif tanpa hadirnya pimpinan sekalipun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar